Semenjak saya menapaki bangku perkuliahan, saya menjalani
kehidupan dua sisi, satu sisi sebagai mahasiswa, sisi lain sebagai seorang
karyawan, meskipun hanya seorang penjaga warnet, tapi hal tersebut adalah kebanggaan
buat saya saat itu. Bangga bisa mempunyai penghasilan sendiri. Kehidupan dua
sisi itu ternyata saya jalani sampai sekarang. Baik di kehidupan pribadi maupun
di lingkungan pekerjaan. Menjadi seorang ibu rumah tangga dan seorang pekerja.
Di perusahaan manapun saya bekerja, saya menempatkan dan
menjalani pekerjaan lebih dari satu tugas, tidak ada hal lain yang saya
harapkan, entah itu penghargaan dari atasan atau perhatian publik, semua itu
saya jalankan hanya untuk mencapai satu tujuan, yaitu keseimbangan. Karena mempertahankan
keseimbangan lebih sulit daripada membangun dari titik nol.
Arti kata multitasking itu sendiri bukanlah mengerjakan dua
tugas atau lebih secara bersamaan, tetapi melakukan pengalihan secara cepat
antara satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Ada teori mengatakan bahwa
multitasking itu negative, karena menghilangkan daya focus. Tapi pada
kenyataanya saya merasakan berbeda dengan teori itu, justru saya merasakan peningkatan
produktivitas kerja, suasana menjadi menarik dan motivasi kerja terjaga.
How?
Fokus memang keharusan dalam bekerja, tetapi ketika otak
kita dituntut untuk terus focus, maka dia akan lelah, timbullah suatu keadaan
membosankan dan stress, jika multitasking dijalankan akan memudahkan
pengintegrasian panca indera yang beragam, hasil dari integrasi yang beragam
tersebut membuat hasil kerja lebih kaya.
Jabatan saya di pekerjaan sekarang menuntut keseimbangan organisasi
terjaga, ketika satu sayap ada yang patah maka saya harus melakukan pertolongan
pertama pada sayap tersebut, sebelum sayapnya diganti dengan yang baru. Dalam
hal inilah multitasking diperlukan, sebisa mungkin jangan pekerjaan
terbengkalai sia-sia. Benjamin Franklin
say : Well done it’s better than well said.
Sebenarnya multitasking alami ada pada diri seorang wanita,
khususnya seorang ibu. Ibu manapun pasti menjalankan multitasking ini dalam
kehidupannya, tiada lain adalah untuk mencapai keseimbangan. Kebutuhan suami
terpenuhi, kewajiban menjadi sosok ibu terselesaikan dan tentunya pekerjaan
rumah tangga selesai tepat pada waktunya.
Lelahkah menjadi multitasking? Apa yang harus dilakukan
ketika mencapai titik puncak kelelahan? Just
be positive. Energi positif akan membangun sisi optimis seseorang,
mengembangkan potensi kekuatan yang membuahkan kebahagiaan yang berkelanjutan. Kesulitan
apapun akan dijadikan kesempatan oleh seorang yang optimis, dalam kehidupan
ataupun pekerjaan. Berpikir positif membuat kita mampu membangun motivasi dan
harapan. Berpikir positif juga membuat kita mampu mengatasi keputusasaan.
Dengan membiasakan diri berpikir positif, kita akan mampu menghargai diri
sendiri dan merasa diri berharga, rasa takut hilang dengan sendirinya.
Keberanian berasal dari kenyataan bahwa jika kita tetap positif, apapun yang
terjadi dalam hidup, kita dapat menghadapinya. Karena motivasi terjitu
sekaligus musuh terbesar adalah kekuatan diri sendiri.